Bila sebelumnya gue sudah menceritakan tentang pemuda pribumi dengan tampang Tiong Hoa, sekarang gue akan menceritakan seseorang yang sebelumnya tak disangka-sangka merupakan keturunan Tiong Hoa dengan tampang pribumi sekali.
Nama pemuda tersebut adalah Rian Eko Setiawan. Terlahir dengan nama asli Lee Ko Huan, Eko mempunyai tampang yang sama sekali tidak mirip dengan orang Tiong Hoa sehingga gue dan temen-temen tidak pernah menduga dia adalah sorang non-pribumi. Tapi memang itulah kenyataan yang harus rela kami ketahui beberapa tahun kemudian setelah mengenal pemuda tersebut. Sebelumnya, gue dengan sangat yakin menyangka bahwa Andre lah sosok seorang Tiong Hoa di antara temen-temen karena feeling gue mengatakan bahwa diantara temen-temen gue ada yang merupakan orang Tiong Hoa tapi di kemudian hari sangkaan ini tidak terbukti.
Gue sekelas dengan Eko dari kelas X (kelas 1 SMA). Dengan sosok pemuda ini gue mempunyai pengalaman unik. Ceritanya waktu itu diadakan ujian harian mata pelajaran Akuntansi dengan mendadak, sebenarnya tidak mendadak karena sudah diberitahukan seminggu sebelumnya, hanya gue bener-bener tidak peduli dengan pemberitahuan itu. Makanya gue menganggap ujian Akuntansi itu mendadak. Celakanya tipe soalnya berbeda dengan teman sebangku dan posisi gue waktu itu sangat tidak menguntungkan untuk soal seperti ini, posisi gue ada di paling belakang. Karena temen yang ada di sebelah tidak bisa diandalkan otomatis gue hanya mengandalkan temen yg ada di depan gue dan dia adalah Eko. Gue pun mencontek jawabannya demi mendapatkan prestasi yang terbaik. Beberapa minggu kemudian, Bu Bekti mengumumkan nilainya. Beliau mengatakan bahwa sebagian besar yang mengerjakan soal tipe A mendapatkan nilai besar karena memang soal A lebih ringan bobotnya.
"Yes, gue ngerjain yang A.", teriak gue sotoy.
Celakanya teriakan gue itu di dengar sama temen-temen sekelas dan Bu Bekti sendiri yang langsung disambut dengan senyum-senyum. Ketika lembar jawaban dibagikan, gue sangat terkejut.
1. Gue ternyata mendapat soal tipe B.
2. Nilai yang tercantum di lembar jawaban gue adalah 38.
Temen-temen yang penasaran dengan nilai gue langsung melihat lembar jawaban gue yang banyak tanda silang merah itu dan serentak mereka tertawa, termasuk guru gue sendiri, Bu Bekti.
Sial.. Malu abis gue. Dengan perasaan malu, gue ke tempat eko dan bertanya dia dapat nilai berapa karena gue memang mencontek dia sebagian besar. Ternyata dia dapat lebih parah dari gue, 36. Gue yang tadi mau marah-marah langsung tertawa lihat ekspresi Eko yang mendapat nilai terkecil di kelas. Pantas aja, ternyata gue salah pilih jagoan kawan.
Eko memang tidak memiliki ketertarikan dalam memperhatikan pelajaran. Bahkan guru kewarganegaraan kami, Bu Rotua, sampai bilang di kelas-kelas yang lain. "Kalian jangan meniru Rian Eko kelas X-4 itu. Penyakit itu.", pidato Bu Rotua seolah-olah sedang mempresentasikan temuan ilmiah penyakit baru. Tapi yang gue kagum sama Eko, Dia memiliki konsentrasi yang tinggi dalam game. Gue tidak pernah bisa menang lawan dia kalau main game. Bila bermain game, dia seolah-olah berubah menjadi sosok dalam game tersebut. Ketika main game balapan, dia seolah-olah menjadi pembalap benaran. Ketika main game sepak bola, dia seolah-olah menjadi pemain bola profesional. Bahkan ketika bermain game girl (game suit untuk membuka baju wanita), dia seolah-olah menjadi wanita yang membuka baju tersebut.
Sosok Eko pada masa SMA sangat jauh dengan yang namanya wanita. Gue hampir tidak pernah mendengar bahwa dia berhubungan dengan wanita. Tetapi lain ketika sudah lulus SMA, dia mempunyai banyak sekali teman wanita. Sekali lagi gue kagum. Gue dari dulu ingin mempunyai kenalan wanita yang lebih tua tapi tidak pernah bisa sedangkan si Eko ini selalu mendapat wanita yang lebih matang alias lebih tua darinya dengan sangat mudah. Apakah tampang dia memang mengisyaratkan sebagai tampang om-om?? Atau karena tampang gue yang masih kelihatan seperti remaja yang telat puber?? Inilah misteri yang belum terpecahkan sampai sekarang. Rupanya selama SMA dia selalu menyerap ilmu yang dipancarkan gue dan temen-temen dalam memikat wanita. Sifat terbuka Adi, kegokilan gue dan Guntur, sifat kalem Andre, Jendro, dan Oka, pesona yang dimiliki oleh Baskoro dan teknik lobi yang dimiliki Imam, serta sifat manja Tommy. Semuanya di rangkum jadi satu dan dikembangkan sehingga di kemudian hari terciptalah sebuah aliran Khong Guan style dalam memikat para wanita.
Mudah sekali mencari temen dalam suka tapi sangat sulit mencari temen dalam berbagi duka.
Temen non-pribumi terbaik yang pernah gue punya, Rian Eko Setiawan a.k.a. Lee Ko Huan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar