Gue pertama kali bertemu dengan pemuda ini sewaktu kelas X di kantin sekolah. Ceritanya siang itu gue lagi makan nasi rames di kantin dan kebetulan pemuda tersebut juga sedang ingin makan di kantin itu. Tiba-tiba pemuda tersebut duduk di depan gue karena kursi di depan gue itu kebetulan kosong. Dia datang bersama temennya yang bernama Trio yang selang berapa lama kemudian mereka tiba-tiba berantem gara-gara rebutan kerupuk. Akibatnya air minum pemuda tersebut tumpah membasahi meja yang tentu saja mengganggu gue yang lagi makan di meja yang sama. Emosi gue naik tapi gue masih mencoba untuk bersabar dan mengalah. Gue terus mengingat pemuda tersebut agar di lain waktu gue tidak duduk dekat-dekat dia waktu di kantin, bahaya, mungkin lain kali dia rebutan saos dan gue tidak bisa membayangkan bagaimana jika saos itu muncrat dan mengenai baju sekolah gue. Pasti kacau abis.
Ternyata kelas XI, gue ditakdirkan lagi untuk bertemu pemuda tersebut. Ya, gue sekelas dengan pemuda tersebut di sisa masa SMA gue. Pemuda tersebut cukup menyenangkan dan lucu. Jadi gue sering mengongek (mengejek untuk hiburan) dia. Pernah dia ingin jitak gue gara-gara kesal gue kongek. Gue lari sekencang-kencangnya dan dia pun mengejar sampai tiba-tiba dia terpeleset dan terjatuh tepat di depan kantin, tempat gue ketemu pemuda ini pertama kali. Sungguh sangat kekanak-kanakan adegan kejar-mengejar ini.
Pemuda lucu ini bernama Tommy Riawan Grohow yang memiliki tanda lahir didadanya menyerupai naga. Dia seorang ksatria kawan. Ceritanya dimulai ketika gue menemukan pas foto Tommy. Tiba-tiba gue punya ide untuk berbuat usil. Berbekal pas foto itu, gue ingin menulis surat cinta kepada seorang wanita dengan mengatasnamakan Tommy. Berbekal kemampuan Eko dalam meniru tulisan Tommy, jadilah sebuah surat cinta yang sangat memesona di lengkapi pas foto tampan dari seorang pemuda layaknya ijazah sekolah lulusan terbaik. Gue dan temen-temen lain pun sepakat untuk memberikan surat cinta tersebut kepada Dian, kelas XI IPA 3. Mengapa gue melakukan hal ini? Ada 2 alasan kawan :
1. Gue tidak mau melihat temen gue menjadi seorang h*m* karena susah bergaul dengan wanita.
2. Gue dan temen-temen ingin menyenangkan dia.
Tidak beberapa lama datanglah wanita bernama Dian itu kekelas kami. "Ko, loe khan yang menulis surat ini?", hardik Dian kepada Eko. Wow, hebat sekali wanita ini bisa menebak penjahatnya yang tentu saja dijawab tidak oleh Eko dengan ketakutansambil menunjukkan buku yang berisikan tulisan dia. Tentu saja tulisannya berbeda karena tulisan Tommy sudah dipalsukan sebaik-baiknya dan wanita bernama Dian ini pun beringsut pergi dari kelas gue sambil sesekali melirik Tommy dengan malu-malu. Gue pun memberitahukan tentang hal itu kepada Tommy yang tidak tahu apa-apa. Dan demi menyelamatkan reputasi gue dan temen-temen terutama Eko, Pemuda ini pun memantapkan hati untuk meminta jawaban wanita tersebut terkait dengan surat ber-pas foto tersebut. Ya, Tommy pun mengaku kepada wanita tersebut bahwa dia lah yang menulis surat cinta tersebut dan meminta jawaban sepulang sekolah. Merasa bertanggung jawab, gue pun membagi sedikit ilmu memikat wanita. Gue ajak Tommy beli bunga di sebuah toko bunga kenalan gue di daerah Bambu Kuning. Toko bunga itu merupakan supplier Florist-Florist kenamaan dan harganya sangat terjangkau. Berbekal bunga itu, pulang sekolah Tommy berlagak seperti seorang pangeran menjemput sang putri. Namun sayang kawan, belum rezeki pangeran ini. Inilah salah satu kisah cinta tersedih yang tertulis oleh William Shakeshand zaman moderen yang menambah rekor ditolaknya cinta seorang pemuda ini. Tapi gue dan temen-temen lain kagum dengan sifat ksatrianya yang menolong kami semua. Keusilan memang kadang berbuah jelek dan butuh suatu pengorbanan untuk mengembalikannya. Gue mewakili diri gue sendiri dan temen-temen lain yang terlibat mohon maaf kepada Dian Harliana Puspita atas keusilan kami yang mengorbankan seorang temen kami.
Pemuda ini juga mempunyai panggilan yang unik. Awalnya, gue memanggil dia Timmy karena waktu itu lagi musim sinetron Cinta Memang Gila dan ada tokoh banci yang bernama Timmy dalam sinetron tersebut. Jadilah panggilan tersebut buat Tommy. Bahkan Bu Senti, guru Kewarganegaraan kelas XII, ikut memanggil Tommy dengan sebutan Timmy yang tentu saja disambut dengan senyum-senyum oleh kami. Tapi berhubung ada Sinetron lagi yang lebih booming, YOYO, maka kami pun mempunyai panggilan baru buat Tommy, yaitu Tince. Tince merupakan pasangan Mance yang mempunyai peran sebagai banci dalam sinetron tersebut. Mance = Imam, Tince = Tommy. Mereka kami tetapkan sebagai paket yang utuh dan sampai sekarang panggilan tersebut masih berlaku tapi hanya untuk gue dan temen-temen saja karena gue tidak akan membiarkan mereka dipanggil banci oleh orang lain. Mereka adalah para lelaki dan ksatria sejati bagi gue. Panggilan itu merupakan panggilan akrab kami kepadanya. Tommy juga merupakan partner gue berlatih judo dan mungkin dia sekarang lebih kuat karena gue sudah jarang mengasah diri lagi dan dia masih terus berlatih dengan fisiknya.
Seseorang bukan hanya dilihat dari fisiknya namun juga dari hatinya.
Tommy Riawan Grohow, my sparring partner.
Ternyata kelas XI, gue ditakdirkan lagi untuk bertemu pemuda tersebut. Ya, gue sekelas dengan pemuda tersebut di sisa masa SMA gue. Pemuda tersebut cukup menyenangkan dan lucu. Jadi gue sering mengongek (mengejek untuk hiburan) dia. Pernah dia ingin jitak gue gara-gara kesal gue kongek. Gue lari sekencang-kencangnya dan dia pun mengejar sampai tiba-tiba dia terpeleset dan terjatuh tepat di depan kantin, tempat gue ketemu pemuda ini pertama kali. Sungguh sangat kekanak-kanakan adegan kejar-mengejar ini.
Pemuda lucu ini bernama Tommy Riawan Grohow yang memiliki tanda lahir didadanya menyerupai naga. Dia seorang ksatria kawan. Ceritanya dimulai ketika gue menemukan pas foto Tommy. Tiba-tiba gue punya ide untuk berbuat usil. Berbekal pas foto itu, gue ingin menulis surat cinta kepada seorang wanita dengan mengatasnamakan Tommy. Berbekal kemampuan Eko dalam meniru tulisan Tommy, jadilah sebuah surat cinta yang sangat memesona di lengkapi pas foto tampan dari seorang pemuda layaknya ijazah sekolah lulusan terbaik. Gue dan temen-temen lain pun sepakat untuk memberikan surat cinta tersebut kepada Dian, kelas XI IPA 3. Mengapa gue melakukan hal ini? Ada 2 alasan kawan :
1. Gue tidak mau melihat temen gue menjadi seorang h*m* karena susah bergaul dengan wanita.
2. Gue dan temen-temen ingin menyenangkan dia.
Tidak beberapa lama datanglah wanita bernama Dian itu kekelas kami. "Ko, loe khan yang menulis surat ini?", hardik Dian kepada Eko. Wow, hebat sekali wanita ini bisa menebak penjahatnya yang tentu saja dijawab tidak oleh Eko dengan ketakutansambil menunjukkan buku yang berisikan tulisan dia. Tentu saja tulisannya berbeda karena tulisan Tommy sudah dipalsukan sebaik-baiknya dan wanita bernama Dian ini pun beringsut pergi dari kelas gue sambil sesekali melirik Tommy dengan malu-malu. Gue pun memberitahukan tentang hal itu kepada Tommy yang tidak tahu apa-apa. Dan demi menyelamatkan reputasi gue dan temen-temen terutama Eko, Pemuda ini pun memantapkan hati untuk meminta jawaban wanita tersebut terkait dengan surat ber-pas foto tersebut. Ya, Tommy pun mengaku kepada wanita tersebut bahwa dia lah yang menulis surat cinta tersebut dan meminta jawaban sepulang sekolah. Merasa bertanggung jawab, gue pun membagi sedikit ilmu memikat wanita. Gue ajak Tommy beli bunga di sebuah toko bunga kenalan gue di daerah Bambu Kuning. Toko bunga itu merupakan supplier Florist-Florist kenamaan dan harganya sangat terjangkau. Berbekal bunga itu, pulang sekolah Tommy berlagak seperti seorang pangeran menjemput sang putri. Namun sayang kawan, belum rezeki pangeran ini. Inilah salah satu kisah cinta tersedih yang tertulis oleh William Shakeshand zaman moderen yang menambah rekor ditolaknya cinta seorang pemuda ini. Tapi gue dan temen-temen lain kagum dengan sifat ksatrianya yang menolong kami semua. Keusilan memang kadang berbuah jelek dan butuh suatu pengorbanan untuk mengembalikannya. Gue mewakili diri gue sendiri dan temen-temen lain yang terlibat mohon maaf kepada Dian Harliana Puspita atas keusilan kami yang mengorbankan seorang temen kami.
Pemuda ini juga mempunyai panggilan yang unik. Awalnya, gue memanggil dia Timmy karena waktu itu lagi musim sinetron Cinta Memang Gila dan ada tokoh banci yang bernama Timmy dalam sinetron tersebut. Jadilah panggilan tersebut buat Tommy. Bahkan Bu Senti, guru Kewarganegaraan kelas XII, ikut memanggil Tommy dengan sebutan Timmy yang tentu saja disambut dengan senyum-senyum oleh kami. Tapi berhubung ada Sinetron lagi yang lebih booming, YOYO, maka kami pun mempunyai panggilan baru buat Tommy, yaitu Tince. Tince merupakan pasangan Mance yang mempunyai peran sebagai banci dalam sinetron tersebut. Mance = Imam, Tince = Tommy. Mereka kami tetapkan sebagai paket yang utuh dan sampai sekarang panggilan tersebut masih berlaku tapi hanya untuk gue dan temen-temen saja karena gue tidak akan membiarkan mereka dipanggil banci oleh orang lain. Mereka adalah para lelaki dan ksatria sejati bagi gue. Panggilan itu merupakan panggilan akrab kami kepadanya. Tommy juga merupakan partner gue berlatih judo dan mungkin dia sekarang lebih kuat karena gue sudah jarang mengasah diri lagi dan dia masih terus berlatih dengan fisiknya.
Seseorang bukan hanya dilihat dari fisiknya namun juga dari hatinya.
Tommy Riawan Grohow, my sparring partner.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar