metafora kehidupan

metafora kehidupan
cara pandang kita menentukan pikiran kita

Rabu, 07 April 2010

Manusia Kecil Vs Ubur-Ubur

Gue liburan hampir sebulan kemarin. Dari tanggal 9 Maret - 2 April. Disuatu kesempatan, gue dan teman-teman sepakat untuk touring ke Teluk Kiluan. Tapi sangat sayang karena berbagai masalah yang timbul, rencana itu pun terpaksa dibatalkan. Dan sebagai penggantinya kami memutuskan untuk berangkat ke Pantai Mutun. Anggota keluarga besar hanya sebagian saja yang ikut, antara lain, Guntur, Imam, Adi, Eko, dan Gue sendiri. Sementara yang lain naek banana boat, Guntur sibuk berenang sendirian. Dia sempat melambaikan tangan kepada kami diatas sebuah ban kecil yang menopang tubuhnya nan imut ketika kami yang sedang diatas banana boat melewatinya. Itulah terakhir kami melihatnya hari itu...

Ya, terakhir melihatnya dalam keadaan baik-baik saja. Ketika kami selesai bermain banana boat dan kembali ke cottage berniat untuk makan, kami melihat dia terhuyung-huyung datang dan menjatuhkan diri dihadapan kami yang sedang membuka nasi bungkus. Kami pun bertanya-tanya, "Ada gerangan apakah kawan Sampai kamu lemas dan mengerang kesakitan seperti ini??".
"Gue diserbu ubur-ubur, kawan.", jawabnya sambil mendesah kesakitan. Dan dia pun menceritakan kronologis kejadiannya. Bagaimana dia yang sedang menikmati keindahan bawah laut dengan cara snorkeling dan karena terlalu mengagumi, dia pun tidak memperhatikan bahwa dia sedang diincer atau lebih tepatnya menuju kearah ubur-ubur yang sedang berkumpul dan bergosip ria. Tidak terima dengan kedatangan manusia bertubuh kecil tersebut, gerombolan ubur-ubur pun mengamuk dan menyerbu Guntur. Merasa dalam bahaya, Guntur pun langsung mencoba melarikan diri tapi sayang sekali sengatan demi sengatan menghantam tubuh mungil itu. Dia pun mencoba melawan dengan mengibas-ibaskan kakinya tapi sayang kakinya pun tersengat kembali dan fin atau kaki katak yang dia kenakan lepas satu. Akhirnya setelah berjuang terpincang-pincang, Guntur pun lolos dari serbuan para ubur-ubur yang berjumlah lebih dari 5 tersebut dan berukuran lebih besar dari kepala manusia.
Kami yang mendengar cerita itu terpaku mendengarkan cerita teman kami tersebut. Kami diam beberapa saat dan tak lama Imam pun bersuara, "Terus kaki katak temen gue itu loe ambil lagi 'gak, tur??"
"Sayangnya enggak Mam, gue udah keburu lari dari tempat ubur-ubur tersebut.", jawab Guntur dengan tetap mengerang kesakitan.
Imam, yang merasa tidak enak dengan temen kampus si empunya kaki katak tersebut dan kasihan dengan sosok Guntur yang terkapar tak berdaya, langsung mengambil kacamata renang dan berusaha mencari kaki katak tersebut tanpa menghiraukan nasi bungkusnya yang sudah dibuka. Gue dan Adi juga yang kebetulan udah membuka nasi bungkus, langsung mempercepat makan kami untuk membantu Imam mencari kaki katak tersebut. Selesai makan, gue dan Adi langsung turun tangan. Niat kami untuk membantu membadai dalam hati. Adi langsung membagi posisi penyisiran bak sang komandan, "Wan, loe yang memakai peralatan snorkel agak ditengah, gue beberapa meter sebelah loe, dan Imam yang menggunakan ban agak dipinggir.", perintah sang komandan.
Tanpa disangka-sangka, ternyata sang komandan berkhianat. Ketika sedang mencari kaki katak tersebut, dia ditegor oleh seorang wanita yang memakai tank top nan tipis berwarna putih dan daleman berwarna kuning, "Siang kak, lagi nyari apa neh?"
"Nyari kaki katak neh, warna biru gitu.", jawab Adi sambil terus mencari.
"Oke, kalau gitu saya bantuin nyari yah kak.", tawar wanita tersebut sambil langsung membungkuk-bungkuk ikut menyelam yang otomatis dengan pakaian seminim itu tentu menggoda sang komandan. Sang komandan sibuk memperhatikan wanita tersebut membungkuk-bungkuk dan batal mencari kaki katak tersebut. Imam yang juga tadinya serius malah berubah haluan, ikut memperhatikan wanita tersebut.
Adi malah iseng memasukkan air kedalam alat snorkel gue. Gue kira gue salah pernafasan sehingga air masuk kedalam mulut. Ternyata ada biangnya dan yang lebih kejam mereka tidak memberitahu gue tentang wanita tersebut. Alhasil pencarian kami tidak berbuah manis. Kami tidak menemukan kaki katak tersebut. "Si Guntur ini seh pake-pake kaki katak. Ukurannya saja 11 ya terang aja longgar dikaki kecilnya Guntur.", omel Imam yang tentu dijawab oleh Guntur dengan malu-malu, "pas koq Mam.."

Ukuran 11 = 43-45

Setelah Guntur sehat baru kami melanjutkan aktifitas perpantaian kami. Berenang dan menyeberang ke Pulau Tangkil. Cukup menyenangkan, hanya saja masalah kaki katak itu belum terpecahkan, selain harganya mahal ternyata barang tersebut tidak ada yang menjual di Lampung dan yang lebih mengejutkan temennya Imam si empunya barang termasuk orang yang pilih-pilih dan kepercayaan Imam sedang dipertaruhkan. Doakan saja dalam waktu dekat ini kaki katak tersebut dapat sudah terganti. Aamiin....

Memorial 16 Maret 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar