metafora kehidupan

metafora kehidupan
cara pandang kita menentukan pikiran kita

Kamis, 18 November 2010

Balapan Yok...

Jalur yang zig-zag.. ...tikungan di depan tidak terlihat, hanya bisa mengandalkan naluri dan intuisi. Saatnya memacu gas... gas... gas terus dan lupakan sejenak menarik rem, biarkan tubuh menari mengikuti irama tingkungan yang ada. Dan berhasil melewatinya walau dengan jarak yang sangat tipis. Dalam menikung tidak harus mengikuti racing line yang ada terkadang kita dapat memodifikasi jalur tersebut walau harus dengan penyesuaian agar kita tetap berada di jalur yang benar.

Yah sebelas dua belas dengan masalah yang ada dalam hidup kita tapi tetap bisa kita prediksi dan biarkan kita melewatinya dengan berani, tentu dengan teknik dan kemampuan mumpuni, agar kita dapat melewati masalah dan memenangkan kompetisi. Hidup itu seperti balapan, kadang menang, kadang kalah, atau pun terjatuh.

Jalur yang zig-zag..
...tikungan di depan tidak terlihat, hanya bisa mengandalkan naluri dan intuisi. Saatnya memacu gas... gas... gas terus lupakan sejenak menarik rem, biarkan tubuh menari mengikuti irama tingkungan yang ada. Dan berhasil melewatinya walau dengan jarak yang sangat tipis. Dalam menikung tidak harus mengikuti racing line yang ada terkadang kita dapat memodifikasi jalur tersebut walau harus dengan penyesuaian agar kita tetap berada di jalur yang benar.

Minggu, 07 November 2010

Semua Untuk Kalian

Kami tahu, kalian para wanita sungguh sebenarnya menghargai usaha yang kami lakukan. dan kalian juga harus tahu, kami selalu bersungguh-sungguh untuk orang yang kami sayangi. Hanya saja kami butuh kalian untuk tersenyum ketika kami merasa lelah, hampir putus asa, dan sungguh.. Kami akan kembali mengerjakan itu untuk kalian. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Dan ya.. Kami pun tahu bahwa ketika kalian hanya diam dan meperlihatkan bahwa kalian bosan, kalian ingin kami tetap sabar. Tapi kami tidak mau terlihat tidak bisa mengerti kalian dengan mengajukan pertanyaan "Jadi maunya gimana?". Kami akan diam sesaat dan berpikir apa yang bisa membuat senyum kalian kembali lagi. Karena senyum kalian yang mengcerahkan hidup kami. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Kami sebenarnya pun tahu bahwa kalian senang jika kami menulis kata-kata atau bersikap romantis seperti yang ada di film-film korea yang kalian tonton. Kalian berangan-angan bahwa hal yang terjadi di film itu akan terjadi dalam kehidupan kalian. (*ya kan?). Tapi justru karena kalian sering mengangan-angankan hal itu maka kami tidak melakukannya untuk kalian. Kami berpikir keras, memutar otak, menyiapkan kejutan yang bahkan tidak terpikir di angan-angan kalian untuk melihat kalian tersenyum. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Kami pun tahu, kalian menerima kami di samping kalian bukan semata-mata karena kami tampan. Ketika kalian mengidolakan seseorang yang tampan maka kami cukup memasang tampang tidak peduli dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Bukan kami tidak peduli, sebenarnya kami cukup muak dengan cara kalian menyanjung lelaki yang bahkan mengenal kalian saja tidak. Tapi kami harus menjadi pemimpin yang baik untuk kalian dan menjadikan kami bersikap lebih bijaksana di depan kalian. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Kami cukup mengerti bahwa kalian menghargai setiap usaha yang kami lakukan untuk membantu kalian mengerjakan tugas kalian. Ketika kalian mengatakan dalam kesulitan, sungguh kami akan berusaha sebisa kami untuk membantu kalian. Dan ketika kami datang kerumah kalian dengan makanan, tanpa tugas yang kalian butuhkan, artinya kami tidak mendapatkan apa yang kalian cari dan yang ada dipikiran kami saat itu hanyalah usaha terakhir yang dapat kami lakukan hanya menemani kalian hingga tugas itu selesai. Meyakinkan bahwa kalian tidak lupa untuk mengisi perut kalian. Kami sungguh khawatir pada kesehatan kalian. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Kami tahu kalian menilai kami minus ketika tahu kami merokok dan seketika itu juga kami berusaha menghilangkan kebiasaan kami. Ketika kami tidak berhasil, maka kami akan berusaha menguranginya, menghilangkan kebiasaan itu sedikit demi sedikit. Namun ketika tidak berhasil juga, maka kami cukup tidak akan merokok di depan kalian. Ketika kalian terus menekan kami, maka dengan sangat terpaksa kami akan berbohong pada kalian. Kami tahu hal itu salah namun itu kami lakukan hanya untuk membuat kalian nyaman di samping kami. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Kami pun tahu, kalian kesal ketika kami mengacuhkan kalian hanya untuk bermain bersama teman-teman kami.Tapi ketika itu, ketika ada sedikit waktu, kami mencari handphone kami dan menanyakan kabar kalian karena kami ingin mengetahui kabar kalian. Dan tahukah kalian ketika kami bermain, kami membicarakan pasangan kami masing-masing, membanggakan bahwa kami memiliki pasangan terbaik di dunia atau membicarakan masalah-masalah yang timbul pada hubungan kami dan masing-masing teman akan memberikan sarannya untuk menyelesaikan masalah kita. Itu kami lakukan hanya karena kami ingin mendengarkan pendapat orang yang dekat dengan kami mengenai keputusan yang akan kami buat. Kadang memang kami mematikan handphone kami namun ketika kami mengetahui kalian menelepon ataupun saat membaca sms dari kalian, maka kami akan berhenti bermain sejenak dan berlari ke pojok kamar menelepon kalian. Tidak peduli teman-teman kami bersorak-sorak menggoda kami. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Kami pun sadar, kami bukan bayi yang harus selalu kalian ingatkan untuk sembahyang atau makan sehingga terkadang kami akan bersikap tak peduli. Namun, ketika kami membaca sms kalian atau mendengarkan suara kalian ketika mengingatkan kami untuk makan maka pada saat itu kami pasti tersenyum dan berterima kasih walaupun tidak kami ucapkan. Dan ketika kami membalas dengan kata-kata "iya, kamu juga ya..", maka kami benar-benar tulus mengatakannya. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Ketika kami bersikap acuh pada kalian maka pada saat yang sama kami sedang menyiapkan kejutan untuk kalian. Dan ketika kami memberikan barang milik kami pada kalian sewaktu mengantar kalian hingga pintu dan pamit pada orang tua kalian, maka kalian harus tau bahwa barang itu adalah barang yang berharga untuk kami. Walaupun barang itu terlihat biasa untuk kalian, tolong tersenyumlah untuk kami. Karena senyum itu yang menyemangati hidup kami. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Dan ketika kalian bersedih, lalu kami melakukan hal-hal konyol, melontarkan lelucon-lelucon yang mungkin tidak lucu. Maka kami sungguh tidak bermaksud memperkeruh suasana, kami ingin melihat kalian kembali tersenyum. Hanya itu. Dan ketika kalian melihat kami dengan pandangan tidak suka, maka ketika itu kami sungguh merasa bersalah. Jalan terakhir yang akan kami lakukan adalah meminta maaf. Berharap itu dapat sedikit mengurangi beban kalian. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Sejujurnya kami tidak menyukai pujaan hati kami menangis. Sungguh itu membuat kami bingung setengah mati. Maka tolong jangan salahkan kami, ketika kami meminta kalian berhenti menangis. Namun kami pasti akan mendengarkan apa yang kalian ucapkan dalam tangis kalian, dan percayalah, kami akan tetap disamping kalian walaupun kalian menangis hingga tertidur di depan kami. Kami akan membawa kalian masuk kerumah dan pamit pulang pada ayah ibu kalian. Dan tunggulah. Kami akan menelepon kalian keesokan harinya untuk menanyakan kabar kalian atau datang ke rumah membawakan sekedar coklat atau es krim hanya untuk melihat kalian tersenyum lagi. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Bagi kami, kalian tetap yang tercantik. Ketika kalian bertanya mengenai berat badan kalian yang naik atau baju kalian yang mulai tidak cukup maka dalam hati kami tertawa namun yang keluar dari mulut kami hanya senyuman. Kami akan berkata tidak, bukan untuk membohongi kalian, tapi karena di mata kami kalian tetap paling indah. Karena kami sebenarnya tidak mencari malaikat yang tanpa cela atau bidadari yang paling cantik sedunia. Kami hanya ingin mempunyai peri kecil yang selalu ada di samping kami. Ya.. Itu adalah kalian.. Mengertilah, Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Ketika kalian berkata baik-baik saja maka kami akan tersenyum dan berkata, "Ok, kalau ada apa-apa bilang ya.." karena kami tidak ingin memaksa kalian mengatakan sesuatu yang tidak ingin kalian katakan pada kami. Tanpa kalian minta kami akan mencari tahu dan bertanya pada sahabat kalian apakah kalian benar-benar baik-baik saja. Jika sahabat kalian pun tidak mau menceritakannya maka cukup, kami tidak akan mencari tahu lagi. Karena kami berharap kalian cukup mempercayai kami untuk menceritakan semuanya suatu waktu. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Dan ketika kalian membutuhkan kami, yakinlah bahwa kami akan selalu ada untuk kalian. Ketika kalian mengatakan "tidak usah" pun, kami akan selalu ada di samping kalian karena kalian adalah orang yang kami sayangi. Percayalah.. Sungguh.. Semua hanya karena kalian.

Jika kami sudah memilih kalian, maka yakinlah, kalian adalah peri kecil kami, setidaknya itu yang kami pikirkan saat itu. Ketika kalian, mungkin tanpa kalian sadari, menyakiti hati kami dan meninggalkan kami, kami mungkin akan marah. Tapi itu hanya sesaat, dan yang kalian harus tahu, ketika kami benar-benar telah memilih kalian untuk menemani kami, maka walaupun hubungan itu berakhir, separuh ruangan hati kami sudah kalian tulisi menjadi ruangan kalian, maka ketika kami mempunyai kekasih yang lain, maka mereka hanya akan mengisi ruang di sisi yang lain, datang, dan pergi pada sisi itu. Ruangan kalian akan tetap kosong untuk kalian ketika kalian kembali untuk kami.

Tapi tolong, jangan khianati kami dengan lelaki yang lain karena itu akan sangat menyakitkan untuk kami. Dan maaf, kami mungkin akan meninggalkan kalian selamanya. Terima kasih untuk mengerti kami.

Disadur dari kaskus, id tangannakal atau cahyabagus, dengan beberapa gubahan..

Selasa, 28 September 2010

disela keterpurukan

tertatihku berjalan, melangkah mencapai tujuan

berusaha menggapai cita, cinta, dan harapan


rencana yang kubuat mungkin tak selamanya lancar

tapi ku khan berusaha melangkah tegap dan tegar


di bibirku tersungging senyum, demi kata itu, istimewa..

Senin, 09 Agustus 2010

Kemah #2

Lanjutan cerita Perjusami, maklum terkendala waktu untuk mengingat dan menulis. Hehehe..

Hari #3 (Minggu)


Selesai jalan malam, kami dibariskan dengan mata tertutup untuk mengikuti acara renungan suci yang pada hakikatnya hanya mengingatkan kita sebagai manusia, konsekuensi dan kompensasi dari apa yang telah dan akan kita lakukan. Tangis demi tangis mengiringi acara tersebut dan dinginnya udara subuh di Bumi Perkemahan. Selesai tangis-tangisan tersebut samar-samar gue dengar suara Beben di sebelah gue. Tanpa pikir panjang, Gue langsung aja menyapa, "Ben, ini loe ya Ben?". Karena mata masih pada ditutup jadi gue terpaksa meraba-raba. Ketika kepegang gue elus-elus aja pahanya kemenelan. "Bukan gue cewek.", kata sosok disebelah gue itu. "Yaelah Ben, mau bohongin gue tah?", kata gue sambil senyum-senyum mesum dengan tangan semakin kencang meraba-raba paha. "Bener, Gue cewek.", kata dia.
Akhirnya setelah disuruh buka penutup mata oleh senior, gue kaget bukan kepalang ternyata disebelah gue beneran cewek. Aini namanya (bukan nama sebenarnya). Kontan aja gue malu dan lari masuk tenda diiringi tertawaan para senior yang rupanya dari tadi menonton adegan gue meraba-raba dari lutut hingga pangkal paha. Didalam tenda gue cepet-cepet ganti baju biar tidak dikenali. Ninja mode on. Ternyata si Aini gak mau kalah juga, ketika gue hampir buka celana dia masuk tenda gue. Tentu aja gue kaget dan urung buka celana. Yang lebih kaget ternyata si Aini galak banget. Gue dimarah-marahin, dikata-katain cabul, tapi beneran lho suara dia seperti laki dan ternyata si Beben juga gak jauh-jauh dari si Aini. Gue sungguh menyesal. Tahu gitu, gue nikmatin ngerabanya. Lho? Hehehe..

Hari minggu ini gue pun mendadak terkenal gara-gara kasus pencabulan tidak sengaja tapi apa boleh buat itu. Dan pagi itu pun ditutup dengan mandi bareng di kali. Kembali gue mengenakan celana andalan, yaitu celana basah yang kemarin gue taruh di pinggir tenda. Ketika berenang, tiba-tiba ada warna pelangi gitu muncul di air pertanda minyak bercampur air. Kita kebingungan darimana tuh minyak. "Kayaknya dari badan loe itu Wan,", kata Fadhli, teman romantis mandi bareng. Gue perhatiin lagi, emang benar seh kayaknya dari badan gue gitu. Tapi masa iya badan gue bisa menghasilkan minyak, bisa kaya mendadak gue. Hehehe. Tiba-tiba gue sadar, ketika kemaluan gue, kita sebut aja si Boy, kepanasan. Padahal pagi-pagi tentu air kali dingin rasanya. Anjriit, celana basah gue bau dengan minyak tanah. Rupanya mungkin ada yang menyangka celana yang gue taruh di pinggir tenda itu sebagai lap. Ckckck. Apes gue, mana subuh sudah berbuat asusila eh pagi-pagi si Boy kepanasan. Sampai siang tuh si Boy menderita. Ckckck..
Akhir kemah ditutup dengan hiking dan doa bareng. Setidaknya gue mendapat berbagai pengalaman berharga dalam acara ini termasuk megang paha cewek walau secara gak sadar dan akhirnya gue juga jadi dapat rumus baru, minyak tanah + si Boy = Bad Effect. Selain itu gue juga dapat anugerah beberapa kolor yang secara tidak sengaja dan entah bagaimana bisa berada dalam tas gue. Ayo kawan, mari nikmati alam dengan berkemah...

Kemah #1

Terlintas kembali ingatan hampir 11 tahun yang lalu, dimasa-masa peralihan dari bocah SD nan lugu menjadi murid SMP pra binal. Awal masuk sekolah, gue terpikir untuk ikut organisasi. Berhubung gue suka berpetualang dan teman-teman sekelas banyak yang ikut, jadilah gue masuk ke sebuah wadah pemuda kreatif sejati yaitu Pramuka.

Maka untuk menyambut anggota-anggota baru diadakanlah sebuah acara spektakuler (menurut gue dan anak-anak pra binal yang masih bengong-bengong gak jelas kebanyakan di kelonin emak di rumah) yaitu Perjusami, Perkemahan Jumat Sabtu Minggu.

Hari #1 (Jumat)

Masih kebawa suasana rumah, alat-alat dibawa lengkap :
1. Baju dan daleman beberapa puluh stel + beberapa diantaranya baru beli, serasa mau liburan aja (not recommended);
2. Kacamata hitam punya Umi;
3. Kamera analog (belum jaman man camdig);
4. Peralatan liburan lainnya.
Gue gak tahu kalo disana itu bakal repot banget ngurusin barang-barang. Tapi Alhamdulillah ketika pulang, gue dapat kolor beberapa stel entah punya siapa.Hehehehe
Tenda di bagi per regu dan gue tergabung dalam regu yang diisi oleh orang-orang nan imbisil, regu ini namanya REGU KOMODO. Regu ini dipimpin oleh seorang laki-laki brewokan culun (buset dah SMP aja ini anak udah brewokan), Bima Haria Putra. Suasana hari itu masih santai dan dibawa ngobrol-ngobrol aja.

Hari #2 (Sabtu)

Gue dan Andreas dapat giliran piket pagi untuk jagain tenda. Sambil masak nasi buat sarapan, gue beres-beres tenda yang sudah kaya' kapal pecah. Andreas ke kali (sungai) entah ngapain. Kita berdua gak ada yang sadar kalau nasi itu sudah gosong gak karuan. Alhasil sarapan pagi waktu itu kerak nasi + mie yang minta-minta dari tenda sebelah karena gue sama Andreas juga gak masak mie. Sore hari dilewati dengan bermain air di kali. Anak-anak saling cipratan air dengan romantisnya sambil sesekali menghindar kalau ada tokai (baca:tai) lewat. Yah beginilah dapat jatah berenang di bagian hilir. Sedang yang di hulu dengan semena-mena tanpa merasa berdosa membuang ranjau air tersebut. Selesai berenang, gue tumpuk aja baju basah dipinggir tenda, besok khan bisa dipakai lagi pikir gue. Jam 8an malam, semua orang berpesta di depan api unggun dengan menampilkan keahlian regu masing-masing. Tak mau ketinggalan regu imbisil pimpinan Bima pun menyumbangkan sebuah lagu walaupun sebenarnya gak terlalu pantas disebut sebagai lagu karena kita sendiri gak tahu apa yang kita nyanyiin. Tapi Alhamdulillah dapat tepuk tangan lumayan meriah tanda kasihan dari para penonton.

Tengah malam kami semua dibangunkan secara paksa oleh senior-senior. Kami dipaksa berpakaian Pramuka lengkap tanpa diberi penerangan yang cukup. Alhasil, ada yang kaus kaki dipakai sebagai dasi, atribut gak lengkap karena dicari gak ketemu, ada yang pakai sepatu kiri semua malah ada yang lupa pakai sepatu karena gugupnya. Gue sendiri untungnya bisa lengkap sehingga gak dibentak-bentak. Dinihari itu kami disuruh hiking/jalan malam menuju pos-pos yang telah disediakan senior, katanya inilah ujian kami supaya menjadi keluarga besar Pramuka. Malam itu kami saling bahu-membahu menembus gelapnya malam dan lebatnya pepohonan di Bumi Perkemahan tersebut. Tiba-tiba, Beben tergelincir di jalan setapak waktu mendaki tebing. Untungnya gue dan teman-teman yang lain sigap megang tangan dia sehingga dia tidak jadi terjun bebas dari tebing tersebut. Alhamdulillah dia cuma luka-luka aja. Kejadian itu membuat yang lain berpikir dan bertindak hati-hati dalam menentukan langkah. Karena kita tidak tahu apa yang akan menanti kita di depan. Ibaratnya kita berjalan didalam gelap malam tanpa penerangan dan kita hanya bisa melihat samar-samar ataupun menduga-duga apa yang ada di depan. Inilah yang seringkali kita sebut prediksi.

Sabtu, 07 Agustus 2010

Indonesiaku

Hidup dalam kesenangan cenderung membuat hidup kita terlalu menyenangkan dan enak. Tapi inilah yang membuat jiwa kita lemah dan manja. Hidup di tanah air Indonesia dengan berbagai fasilitas hotel bintang lima, seperti tanah yang subur, aneka kekayaan alam, dan iklim tropis yang menyenangkan, membuat kita lupa, membuat kita khilaf, membuat kita tidak ingin memperluas pengetahuan kita tentang bagaimana menjalani hidup dan mengelola kekayaan alam kita ini. Coba kita lihat Jepang, negara yang notabene minim kekayaan alam, sering gempa dan tsunami, dan pernah hancur di bombardir tentara sekutu pada tahun 1945, sekarang bisa menjadi negara raksasa dan sangat disegani di seluruh dunia. Mereka berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan mereka dengan kekayaan alamnya yang sedikit, mereka berpikir bagaimana cara menanggulangi bencana yang ada, mereka berpikir untuk bangkit dan maju. Bagaimana dengan kita?? Kepribadian yang kuat terbentuk dari banyaknya masalah yang dihadapi, kerasnya tantangan untuk hidup, dan kemauan kita untuk menghadapi masalah tersebut. Bangkitlah pemuda Indonesia, bukan demi diri kita saja tapi juga demi negara tercinta kita, Indonesia.

Senin, 02 Agustus 2010

samurai 1

Brak...
Pedang itu pun terjatuh menjauh dariku. Kini aku bagaikan samurai tak berpedang. Samurai yang hilang arah. Darahku berhenti mengalir dan hatiku pun membeku. Tidak ada rasa, cipta, dan karya mengalir lagi dari seorang samurai. Sampai kutemukan kembali pedangku, pedang tanda bahwa samurai ini belum mati.